Beranda HEADLINE Biarkan Orang Film Berkreasi, Bukan Lagi Jadi Corong Pemerintah

Biarkan Orang Film Berkreasi, Bukan Lagi Jadi Corong Pemerintah

466
0
BERBAGI
Maman Wijaya (foto: DSP)

Fokuskini – Karya film sebagai alat penetrasi kebudayaan dan cerminan kultur masyarakatnya, bagi negara bisa kedua-duanya difungsikan untuk penyebaran budaya ataupun mempengaruhi para penonton warga negara sendiri dan masyarakat luar di negara lain.

“Lebih ekstremnya, film bisa digunakan sebagai produk propaganda (oleh negara). Kita kan bisa mempropagandakan negeri ini melalui kearifan lokal, melalui tontonan film ke masyarakat dunia internasional. Jadi bukan lagi sekadar untuk menangkal budaya asing, karena kalau bisa kita menghegemoni mereka, Caranya kita harus banyak memproduksi film, dan membuatnya menarik, karena (percuma bikin) film banyak-banyak kalau tidak ditonton masyarakatnya, Salah satu cara menilai film itu punya pengaruh budaya, ya harus ditonton oleh banyak orang,” papar Kepala Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Pusbang Perfilman Kemdikbud), Maman Wijaya dalam Dialog Film Nasional yang diselenggarakan Forum Wartawan Hiburan dan Kemdikbud.

Kearifan lokal budaya dan bahasa, dijelaskan Maman, jelas sudah masuk bagian rancangan kebijakan Rencana Induk Perfilman Nasional (RIPN) dan membiarkan orang-orang film benar-benar bisa berkreasi, asalkan jangan melupakan pengaruh sosial dan keagamaan di tengah-tengah masyarakatnya, meski karya film nasional tidak lagi boleh dipakai jadi corong pemerintah.

“Mumpung banyak orang-orang film kita yang memperoleh kemenangan di festival-festival film internasional,” diingatkan Maman.

Bagian dari program pemerintah juga pastinya adalah membantu memfasilitasi insan-insan perfilman nasional yang jadi pemenang di festival film internasonal. “Supaya mereka bisa berangkat ke acara penganugerahan kesana, kita mendanai dari berangkat hingga pulang lagi, termasuk juga hadiah-hadiah misalnya kalau filmnya belum ditranslasi ke bahasa Inggris, maka kita biayai pembuatannya,” ungkap Maman.

“Kalau belum sarjana S1, kita membiayainya untuk mendapatkan beasiswa. Seperti yang menang tahun ini di Festival Film Cannes, Prancis, sampe 5 orang film kita berikan bea siswa. Kita lihat dari statistiknya, kalau dilihat dari film yang bermuatan kearifan lokal, trennya meningkat. Tahun ini banyak sekali dalam kuantitas, tetapi kemudian dari sisi kualitas juga tidak kalah, termasuk peningkatan film-film bertema kearifan lokal,” imbuhnya.

LEAVE A REPLY