Beranda WISATA 130-an Sketsa Eksotis “Pak Djon” di Bentara Budaya Jakarta

130-an Sketsa Eksotis “Pak Djon” di Bentara Budaya Jakarta

1783
0
BERBAGI

S SUDJOJONO Center bekerja sama dengan Bentara Budaya Jakarta (BBJ) dan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) menjadwalkan eksibisi sketsa-sketsa karya S Sudjojono, serta memorabilia S Sudjojono dan Rose Pandanwangi yang jarang dilihat publik. Berlangsung di BBJ, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta Pusat pada 7-13 Juni mendatang, kegiatan budaya itu sekaligus meluncurkan dua buku terbaru, yaitu autobiografi S Sudjojono dan biografi Rose Pandanwangi. Kedua buku ini, yang dibundel menjadi satu, menyuguhkan banyak inside story dunia kreatif Sudjojono maupun Rose sebagai seniman lukis dan nyanyi, serta bagaimana mereka saling mendukung kehidupan kreatif masing-masing.

S Sudjojono beranggapan bahwa melalui sketsa, kita dapat melihat apakah seseorang itu pelukis besar yang mampu melukis dengan dasar teknik yang baik atau tidak. Sepanjang hidupnya S Sudjojono membuat banyak sekali sketsa yang bukan sekadar gambar orat-oret, melainkan menyerupai catatan harian, catatan sejarah mengenai segala sesuatu yang dilihat atau dialaminya.

Pak Djon, demikian sapaan akrab bagi maestro S Sudjojono, membuat sketsa dengan pensil, cat air, bolpen atau tinta cina. Jumlahnya ratusan, bahkan ribuan. Bagi “Pak Djon”, sketsa itu penting bagi seorang pelukis. Ini dibuktikan dari ribuan sketsa yang kemudian dikuratori menjadi sekitar 131 sketsa yang akan dipamerkan kali ini.

Melalui sketsa-sketsanya, kita dapat melihat lebih dalam proses seorang pelukis maestro seperti S Sudjojono yang selalu detail dalam melakukan observasi dan studi sebelum menciptakan sebuah karya. Catatan dan data-data yang sudah dalam rupa sketsa tersebut, nantinya dituangkan menjadi lukisan cat minyat di atas kanvas seperti lukisan bersejarah “Pertempuran antara Sultan Agung dan Jan Pieterszoon Coen“.

Selain pameran, akan digelar pula perbincangan “Hidup Mengalun Dendang” pada Kamis (8/6/2017). Ada pula lomba foto yang khusus mengangkat tema seputar pameran maupun kegiatan lain yang menyertainya. Adapun pameran ini dikuratori oleh Ipong Purnama Sidhi, Siont Teja, dan Daniel Komala.

Sindudarsono Sudjojono merupakan salah satu tokoh kunci seni rupa modern Indonesia. Oleh Trisno Sumardjo, dia diberi sebutan “Bapak Seni Lukis Indonesia Modern“. Lahir di Kisaran, Sumatera Utara pada 14 Desember 1913, Sudjojono mempelajari seni lukis dari seorang pelukis bergaya realisme, Mas Pirngadie mulai tahun 1928, dan juga dari pelukis berwarga negara Jepang, Chiyoji Yazaki tahun 1935. Pada tahun 1937 bersama Agus Djaya dan beberapa seniman lainnya, Sudjojono mendirikan Persatoean Ahli-ahli Gambar Indonesia (PERSAGI) di Batavia.

Gagasan-gagasan Sudjojono tentang perkembangan seni lukis modern Indonesia terangkum dalam bukunya yang terbit pertama kali berjudul “Seni Loekis, Kesenian, dan Seniman” (1946). Sudjojono mendirikan Seniman Indonesia Moeda (SIM) di Madiun, Jawa Timur pada tahun 1946, dan berpindah ke Yogyakarta tahun 1947.

Sebagai tokoh berpengaruh, beberapa memoar dan buku telah diterbitkan dengan mencantumkan nama besarnya. Akhir masa hidupnya dilalui di kediaman sekaligus sanggar di Pasar Minggu, Jakarta, yang kemudian menjadi S Sudjojono Center.

LEAVE A REPLY