Beranda HEADLINE WIFT 2017 Untungkan Ekonomi Masyarakat Nelayan dan Industri Pariwisata

WIFT 2017 Untungkan Ekonomi Masyarakat Nelayan dan Industri Pariwisata

1747
0
BERBAGI

Fokuskini – Bertujuan ke depan untuk menjadikan Provinsi Maluku Utara sebagai destinasi industri dan wisata mancing dunia, Pemprov Maluku Utara menggelar “Widi International Fishing Tournament (WIFT) 2017”, berpusat di Kepulauan Widi, Kabupaten Halmahera Selatan pada 25-29 Oktober mendatang memperebutkan Piala Presiden RI.

WIFT 2017 dipastikan memakai standar turnamen mancing tingkat internasional, sesuai sistem peraturan dari IGFA (International Game Fish Association) dan TBF (The Billfish Foundaion) dengan konsekuensi ini maka hanya tersedia 50 kapal nelayan Malut yang memenuhi standar kelayakan, padahal kini saja para pendaftar yang hendak mengikuti turnamen telah mendekati 75 tim peserta.

“Over-demand, maka kami sepakat dalam sebulan ini harus bisa menyediakan tambahan kapal nelayan yang penuhi standar keikutsertaan dari provinsi lain yang terdekat, supaya biaya dan ongkos pengeluarannya tidak terlalu tinggi,” dijelaskan Ketua Panitia Nasional WIFT 2017, Rokhmin Dahuri.

Standar internasional tentang pemancingan di kawasan laut, juga mengharuskan mengikuti area fishing spot, artinya tim peserta turnamen yang melanggar akan kena diskualifikasi. Ini bagian aturan hanya ikan jenis billfish yang boleh dipancing, termasuk Marlin, Layaran, Tuna, Salmon, Tenggiri, Kerapu ataupun Kakap.

“Jangan diperkenankan memancing Hiu dan jenis-jenis protective species terdaftar seperti ikan karang, Napoleon yang dilarang oleh sanksi internasional,” imbuh Rokhmin Dahuri saat konferensi pers yang ikut dihadiri Gubernur Maluku Utara, Abdul Ghani Kasuba; Sekretaris Menteri Pariwisata Ukus Kuswara dan Wakil Bupati Halmahera Selatan Iswan Hasjim.

Sudah melalui penelitian bahwa jenis-jenis ikan seperti Marlin dan Layaran serta Tuna itu, termasuk di perairan Maluku Utara, hadir sepanjang tahun karena di kelautan Indonesia ada pergerakan arus dari Samudera Pasifik secara konstan.

Sumber benefit langsung yang bisa dinikmati oleh masyarakat nelayan dengan adanya WIFT, adalah juga rumah-rumah tinggal penduduk setempat kepulauan yang bisa diubah menjadi homestay

Ternyata orang-orang kaya itu seperti komunitas-komunitas pemancing yang mengikuti turnamen-turnamen internasional suka sekali back to nature. Menyatu dengan alam, inginnya homestay bukan hotel mewah.

“Jadi kami siapkan rumah tinggal, supaya bisa memenuh syarat higienis dan sanitasinya. Pokoknya, walaupun cuma rumah penduduk, tapi bersih nyaman, dan pastinya tidak memalukan. Ini justru keuntungan ganda, dan kalau berharap penginapan hotel di Maluku Utara, dan wilayah sekitarnya juga nggak bakal cukup. Jadi mereka akan tinggal di homestay,” lebih lanjut dijelaskan Rokhmin.

Kami optimistis, diterangkan oleh mantan Menteri Kelautan dan Perikanan ini, bahwa 75 tim peserta WIFT 2017 diyakini membantu ekonomi masyarakat setempat. “Selain pemancing kan keluarganya ikut (bersama mereka), dan ini membuat ekonomi rakyat bertambah dahsyat itu,” harapnya.

LEAVE A REPLY