Beranda ENTERTAINMENT KILLSKILL dengan Problematika Sosialnya di Galnas

KILLSKILL dengan Problematika Sosialnya di Galnas

451
0
BERBAGI

ENAM seniman pelukis dan perupa berdomisili di Jakarta dan Bandung yakni Aris Darisman, Bonifacius Djoko Santoso, Dodi Hilman, Lambok Hutabarat, Wahyudi Pratama dan Yulian Ardhi yang mewadahi diri dalam satu kolektif seni rupa bernama KILLSKILL kini melangsungkan eksibisi bertajuk “Quiet Riot On Stage” di Gedung C Galeri Nasional Indonesia, Gambir, Jakarta Pusat hingga 17 Juli mendatang.

Ini adalah eksibisi seni rupa yang ketiga kalinya dari KILLSKILL. Mereka awalnya berpameran sebagai wadah eskapisme dari pekerjaan rutin sebagai desainer, ilustrator, serta pengajar seni rupa dan desain di beberapa kampus di Jakarta.

Mereka merupakan alumni Institut Teknologi Bandung yang mengambil jurusan Desain dan Seni Murni di tahun 1994 sampai 1996. KILLSKILL sebagai nama kelompok, diambil sebagai satire atau glorifikasi terhadap parodi, ironi, pola pikir, kebiasaan, nafas kultural, dan hidup masyarakat di kotabesar yang berjalan terlalu cepat.

Sebagai kolektif yang memiliki latar pendidikan yang sama, KILLSKILL memahami betul bagaimana perkembangan seni rupa dan desain di periode 1990-an, atau Bandung khususnya yang merupakan era transisi politik dan sosial.

Keberanian KILLSKILL mengungkap wilayah ideologis masih terus berjalan hingga saat ini, karena segala problematika dan masalah sosial sejak mereka menempuh pendidikan sampai sekarang, 25 tahun kemudian, masih sama.

Stagnasi lingkungan dan perkembangan, serta kemandekan kemajuan masyarakat adalah bahan baku yang kerap mereka suarakan sebagai amunisi berkarya.

Dalam pameran ketiga yang bertajuk “Quiet Riot On Stage” dengan dikuratori Evelyn Huang dan Yuka Dian Narendra, KILLSKILL kembali masuk dalam titik nol. Memulai proses berkarya melalui tahap riset, diskusi, dan akhirnya menumpahkan kegelisahan mereka. Karya-karya menyentil, kelam, nakal, dan artistik tersaji seolah-olah teguh berdiri atas identitas mereka.

Eksibisi ini membicarakan wacana yang cenderung politis secara simbolik melalui karya-karya yang rough, kaku, mengambil elemen kebodohan kelas, dan menggunakan idiom-idiom visual yang dekat dengan pemberontakan.

Kemarahan, kegelisahan, praktik kesenian yang dijelajahi semenjak proses pendidikan, dan situasi sosial politik di masa akademis dipamerkan dalam berbagai medium dan teknik.

LEAVE A REPLY