Beranda FILM “Bukan Cinta Malaikat”, Takdir dan Jodoh di Tangan Tuhan

“Bukan Cinta Malaikat”, Takdir dan Jodoh di Tangan Tuhan

394
0
BERBAGI

Fokuskini – Kalau warga Nusantara berkehendak menyaksikan tontonan film layar lebar drama religi dengan gejolak percintaan, berkisah unik atau berbeda dengan sisipan performa laga yang masuk akal sehat, mungkin hari Kamis ini (13/7/2017) menjadi saat yang tepat buat berangkat dan hadir di bioskop menonton “Bukan Cinta Malaikat”, karya film produksi internasional hasil kerjasama Ganesa Perkasa Films (Indonesia) dan Ace Motion Pictures (Malaysia).

Sutradaranya pun berkolaborasi diantara dua nama sutradara satu rumpun Asia Tenggara yakni Azis M Osman dan Herdanius Larobu. Para pemerannya juga gabungan Indonesia dan Malaysia yakni Fachri Albar, Nora Danish, Ashraf Muslim, Donita, Dewi Irawan dan Joshua Pandelaki dengan lokasi syuting di Madinah, Mekkah, Trengganu (Malaysia), dan kota Bandung.

Bermuatan gejolak percintaan menggebu berbunga emosi kaum muda, tetapi manusiawi dan bercampuran duka serta klimaks yang menghibur melalui skenario complicated garapan Aziz M Osman, “Bukan Cinta Malaikat” berfokus pada tindakan khilaf usia muda yang butuh saling sikap memaafkan, serta penguatan takdir dan jodoh walau bagaimanapun bentuk rintangannya tetap berada pada Kekuasaan Allah.

Kisah cinta antara pemuda relawan asal Indonesia, Reyhan (Fachri Albar) dan perempuan muda berkewarganegaraan Malaysia, bernama Dewi (Nora Danish) mulai tumbuh saat keduanya berjumpa ditengah perjalanan umroh.

Suasana kehadiran pesona lansekap-lansekap Mekkah dan Madinah juga jadi bagian tontonan mengesankan, serta kedamaian nuansa wisata alam di Trengganu dan sisi berbeda pada suasana Bandung yang berpanorama shady.

Gejolak kisah kasih mereka bisa dibilang ruwet karena ada cinta yang lain menunggu dan setia mengejar Dewi di negara asalnya. Pemuda keturunan pebisnis kaya yakni Adam (Ashraf Muslim), meski tidak disetujui pihak keluarga, terus menerus mendesak dan memohon Dewi bersedia untuk saling menikah.

Adapun ternyata Reyhan menyimpan beban kasih sayang pada Aliyah (Donita). Kerenggangan antara Reyhan dan Aliyah dikarenakan kesibukan Reyhan sebagai relawan sosial di kawasan konflik Timur Tengah yang justru menemukan cintanya yang lain pada diri si gadis Malaysia.

Bukan cuma gejolak asmara, ataupun dendam percintaan yang sempat menimbulkan konflik antara Adam dan Reyhan. Tetapi juga ada latar belakang kasus dendam lain yang mengejar Reyhan oleh anggota kelompok pemberontak yang pernah bersinggungan “pertempuran kecil” di kawasan Timteng, serta pula dilema percintaan Reyhan dan Aliyah yang berperkara KDRT dengan suaminya.

Berbagai konflik lainnya membuat “Bukan Cinta Malaikat” terbilang mencekam atau berbenturan kemana-mana, namun mampu dikemas secara sederhana atas dasar saling memaaafkan keteledoran manusia untuk menuju kebaikan bersama.

Menonton asiknya kolaborasi film layar lebar Indonesia yang juga memainkan pemeran asal Malaysia, salah satunya mengingatkan pada aktor brilian yang kini Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar sebagai Hadi, sukarelawan yang sempat terperangkap “jadi warga Malaysia” di film bertajuk “Irisan-irisan Hati” (1988) karya sutradara Djun Saptohadi yang melibatkan aktris Malaysia, Tiara Jacquelina selain aktris panutan negeri sendiri, Christine Hakim.

Chandir Bhagwandas selaku produser, berharap “Bukan Cinta Malaikat” mampu membuat para penonton film di Indonesia dan Malaysia nantinya dapat mengambil suatu mafaat pesan moral dari karya drama religi ini.

LEAVE A REPLY