Beranda EDUKASI Saling Dukung CAKRA dan True Axion Interactive Pecahkan Masalah

Saling Dukung CAKRA dan True Axion Interactive Pecahkan Masalah

279
0
BERBAGI

Fokuskini – Bergulirnya kesepakatan persetujuan kerjasama Cipta Kreatif Indonesia (CAKRA) dan True Axion Interactive melalui seremoni penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada pekan ini, disebut oleh Ivan Chen selaku Pendiri CAKRA adalah bagian dari kebutuhan upaya kita mendatangkan para praktisi IP (intellectual properties) dari dunia internasional untuk saling mendukung.

Salah satunya, jelas dia, berkandungan harapan untuk tenaga-tenaga kreatif IP di Indonesia bisa memecahkan berbagai masalah terutama di sektor industri Game dan Animasi, dengan cara mereka memberikan solusi pendidikan, mentorship, development hingga pemasarannya di market internasional.

“Sehingga kita bisa dikenal diluar sana. Paling awal, tentunya kita harus menciptakan developer-developer game lokal yang berstandar internasional sebagai program visi CAKRA menghasilkan 1000 IP sampai tahun 2020. Itu (mungkin) langkah pertama dari lokal negeri sendiri bisa menyediakan tenaga kreatif pengembang game berstandar internasional, dan peran serta pemerintah juga mestinya aktif,” harap Ivan.

Diakui oleh Ivan, kalaupun dirinya sendiri tergolong produktif sebagai kreator IP namun seringkali masih berdasarkan pesanan klien pelanggan dari kalangan perusahaan, karena disini (Indonesia) belum ada timbal balik ekosistem yang mendukung bisnis IP.

“Di Indonesia banyak sekali tenaga kreatif IP untuk karya komik dan animasi, tapi bagaimana kemudian yang kita harus bangun adalah ekosistem pertumbuhan IP secara komersil, supaya kita bisa bersaing dengan pemain kreatif IP di dunia luar. Jadi nantinya kita juga bisa menjual ataupun memasarkan ke dunia internasional,” lebih lanjut dijelaskan Ivan.

Apalagi, kini diprediksi pasar industri game pada tahun 2017 mampu menyentuh pendapatan global yang menggiurkan sampai sebesar USD 106.700 juta.

“Kita punya banyak pekerja IP asal negeri sendiri, tetapi banyak juga yang belum merilis hasil kerjanya karena masalahnya kita masih mencukupi diri kita sendiri dengan product services, berbuat hanya dengan dana sendiri karena tidak adanya mekanisme pendanaan khusus buat IP di Indonesia. Makanya seringkali kita masih keteteran,” imbuh Ivan.

LEAVE A REPLY