Beranda LIFESTYLE Pendekatan “One Health” untuk Indonesia Bebas Rabies

Pendekatan “One Health” untuk Indonesia Bebas Rabies

85
0
BERBAGI

RABIES merupakan salah satu zoonosis utama, dan selalu menjadi masalah kesehatan masyarakat. Mengingat besarnya ancaman penyakit ini, maka sudah seharusnya program pencegahan, pengendalian dan pemberantasan rabies menjadi tanggung jawab bersama.

Saat ini wilayah kawasan yang telah berhasil dibebaskan dari rabies yaitu Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, Kepulauan Riau, Bangka Belitung dan Nusa Tenggara Barat.

Sedangkan untuk area pulau yang telah bebas rabies yaitu Pulau Weh, Pulau Pisang, Pulau Enggano, Kabupaten Meranti dan Kepulauan Mentawai.

Target pembebasan wilayah dalam jangka pendek ingin kita selesaikan, lebih lanjut dikatakan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita yaitu lewat pembuktian bebas rabies secara historis Provinsi Papua dan Papua Barat (2017-2018); Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara (2018); serta Kepulauan Nusa Penida, Ceningan dan Lembongan, Bali (2018-2019).

Menurutnya, pelaksanaan program pengendalian dan pemberantasan rabies saat ini dihadapkan dengan beberapa tantangan besar dengan masih banyaknya wilayah di Indonesia yang tertular rabies.

“Untuk menjawab tantangan ini, kerja sama dengan berbagai pihak dan pemangku kepentingan, serta otoritas veteriner harus terus ditingkatkan melalui pendekatan One Health,” kata I Ketut Diarmita seperti diwartakan di situs resmi Kementan.

“Kita berharap dengan pendekatan One Heath, Indonesia dapat segera dibebaskan dari rabies”, harapnya.

Menurut dia, komitmen semua pihak baik di tingkat lokal maupun nasional sangat penting untuk mencapai target tersebut. “Hal ini karena pada tingkat regional ASEAN, telah menjadi kesepakatan para Menteri Pertanian dan Menteri Kesehatan se-ASEAN, dan telah dicanangkan ASEAN free of Rabies by 2020 yang tertuang dalam dokumen ASEAN Rabies Elimination Strategy (ARES),” ungkap lanjut Dirjen PKH.

“Namun demikian, kita harus sadari bersama bahwa untuk mencapai target tersebut sangat berat, sehingga evaluasi harus dilakukan untuk menyesuaikan target-target kita baik di tingkat Kabupaten/Kota, Provinsi, maupun di tingkat nasional”, ungkapnya.

“Peta Jalan Pemberantasan Rabies Nasional yang menargetkan Indonesia bebas rabies pada tahun 2020, juga harus kita sesuaikan dengan kondisi nyata situasi penyakit dan kemampuan sumberdaya kita,” imbuhnya.

Lebih lanjut dijelaskan, untuk mencegah, mengendalikan maupun memberantas rabies pada hewan, maka kebijakan dan strategi nasional yang dilaksanakan saat ini adalah melalui pelaksanaan gerakan vaksinasi massal pada hewan penular rabies (HPR) secara berkelanjutan.

Selain itu, berbagai tindakan untuk mengendalikan populasi anjing, pengaturan atau pengawasan perdagangan dan lalu lintas anjing, serta strategi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) kepada masyarakat juga terus kita lakukan,” ujarnya.

Dirjen PKH ini beranggapan, keberhasilan program pengendalian dan penanggulangan rabies sangat dipengaruhi oleh seberapa besar keterlibatan seluruh lapisan masyarakat, baik itu keaktifan petugas kesehatan dan kesehatan hewan, perilaku pemilik hewan, partisipasi masyarakat luas, keberhasilan sosialisasi, penyediaan logistik, dan dipahaminya ekologi anjing.

“Kami harapkan dengan adanya program KIE berkelanjutan, kita bisa menciptakan masyarakat yang lebih bertanggungjawab dalam pemeliharaan hewan mereka (responsible pet ownership),” ucapnya penuh harap.

Melalui kegiatan pelaksanaan Hari Rabies Sedunia (World Rabies Day), akhir pekan ini di Sukabumi, Jawa Barat, pihaknya mengajak semua stakeholder untuk berpartisipasi secara aktif melalui kegiatan-kegiatan pelibatan masyarakat terkait pengendalian dan penanggulangan rabies, dengan harapan kegiatan-kegiatan tersebut akan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya, ancaman, dan pentingnya keterlibatan mereka dalam melindungi kesehatan masyarakat dan hewan dari bahaya rabies.

LEAVE A REPLY