Beranda HEADLINE Ikmal Tobing, Tanpa Penyesalan di Jagat Drumer

Ikmal Tobing, Tanpa Penyesalan di Jagat Drumer

69
0
BERBAGI

Fokuskini – Beraksi performa ganas di atas panggung dengan paduan atraksi gaya menghibur, mungkin bukan cuma drumer Ikmal Tobing yang bisa melakukan itu. Tetapi bermain drum di atas ketinggian gunung, pasti cuma pernah dilakukan Ikmal di Gunung Pajajaran, Bogor, Jawa Barat.

Drumer band Mahadewa yang nyaris ikutan audisi pengganti almarhum The Rev personel grup musik hard rock Avenged Sevenfold yang wafat tahun 2009 ini, juga memiliki latar belakang sebagai pemain sepakbola berprestasi. Ya, sekitar tahun 2003-2006 dikenangnya menjadi sisi talenta lain sang striker Persija Yunior yang top skorer, dan kalau saja saat itu sepakbola Indonesia telah melindungi profesionalisme setiap pemainnya, kemungkinan besar Ikmal tidak bakal jadi drumer hebat.

“Setiap pulang dari jadwal latihan sepakbola, pasti langsung main drum. Kalau saja ketika itu (sepak bola) kita mendapat perhatian layak…,” kenangnya di depan watawan, saat baru saja menyelesaikan performanya dengan pemenang kesatu Tama Groove Session Indonesia 2017.

Namun nasib itu dirasakannya tidak perlu disesalkan, bahkan ketika belakangan ini melihat reputasi Radja Nainggolan di liga utama Serie A (AS Roma, Italia) dan tim nasional Belgia itu, baginya bukan membangkitkan rasa penyesalan diri tetapi timbul kebanggaan dengan adanya pemain sepakbola internasional berdarah keturunan bangsa Indonesia tersebut.

Pengagum drumer The Beatles, Ringo Starr; Neil Peart (Rush), Lars Ulrich (Metallica), John Bonham (Led Zeppelin) ini mengaku dirinya serupa dengan kodrat talenta ayahnya, drumer Jelly Tobing yang awalnya juga aktif di Persija dan salah seorang pendiri kelompok suporter, Jakmania.

Diakui, terus terang dirinya tetap bawel terhadap lamban perkembangan profesionalisme sepakbola di tanah air, karena sebutlah Ronaldo (Portugal, Real Madrid) yang terbilang memperoleh perlindungan asuransi kesehatan gila-gilaan dan “dimanjakan” bahkan mungkin cuma karena kelingking kakinya keseleo. “Beda sekali denagn di sini, pemain berprestasi sampai kaki patah, hanya mendapatkan perhatian biasa aja. Ada temen-temen lama yang gajinya dipotong ataupun sampai tidak diberikan sama sekali,” ungkapnya.

Risiko seperti itu yang dulu membuat Ikmal berpikir untuk kemudian mengundurkan diri, dan memutuskan jadi drumer dan edukator.

LEAVE A REPLY