Beranda FILM “Rumah Budaya Satu-Satu” Mengantisipasi Kekuatan Global

“Rumah Budaya Satu-Satu” Mengantisipasi Kekuatan Global

55
0
BERBAGI
Eddie Karsito, aktor film dan televisi

MASIH terkait dengan perayaan hari Sumpah Pemuda telah dideklarasikan “Rumah Budaya Satu-Satu” di lokasi Perumahan Kranggan Permai, Jatisampurna, Kota Bekasi, akhir pekan ini.

“Rumah Budaya Satu-Satu” diharapkan dapat menjadi sarana penguatan, media penyangga, dan ekspresi budaya yang dapat meningkatkan posisi tawar budaya Indonesia di tengah arus global. Memperjuangkan hak hidup dan berkembangnya budaya Indonesia yang mengandung nilai-nilai luhur. Membangun budaya Indonesia menuju perubahan, pencerahan, berperikemanusiaan, penuh solidaritas, berkeadilan, dan berbasis pada nilai-nilai kearifan lokal.

Momentum ini diharapkan dapat menjadi spirit menjaga Indonesia yang multikultural, memperkuat nasionalisme, persatuan dan kesatuan, serta menjadikan bangsa kuat dan lebih beradab di dunia.

Sejumlah elemen masyarakat terdiri dari seniman film, budayawan, tokoh masyarakat, pejabat, birokrat, wartawan dan para profesional mendukung kebulatan tekad ini.

Mereka diantaranya mewakili DPRD Kota Bekasi yakni Anim Imamuddin, Abi Hurairah (Camat Jatisampurna), Asep Muharam (Lurah Jatisampurna), Suryandoro (Seniman Tradisi), Dedi Setiadi (Sutradara), Dorman Borisman (Aktor), Teddy Prangi (Aktor), Yati Surachman (Aktris), Erna Santoso (Aktris), Rendra Satria Agung (Produser), Bambang Oeban (Budayawan), Iwan Burnani (Seniman), dan banyak lagi.

“Kita adalah pelaku sejarah. Tugas kita membuat sejarah. Sejarah yang kita sematkan malam ini adalah kegelisahan kreatif. Kesadaran yang dapat menjadi spirit dalam memecahkan banyak hal. Menempatkan Rumah Budaya Satu-Satu sebagai sarana berkumpul, untuk mengeksplorasi dan mengimplementasikan gagasan. Benteng peradaban, paspor utama dalam tata pergaulan dan tegur-sapa global, dengan kesadaran; manusia yang satu, tinggal di bumi yang satu, dan Tuhan yang satu,” papar Eddie Karsito, inisiator “Rumah Budaya Satu-Satu” yang juga aktor peraih penghargaan di Festival Film Bandung.

Menurut dia, kekuatan global bila tidak diantisipasi dapat mengancam punahnya nilai-nilai lokal.

“Kemajuan teknologi informasi menjadi babak baru bagi budaya masyarakat dunia. Dunia menjadi rumah global. Tak jarang menafikan batas-batas teritorial. Melahirkan penyeragaman budaya. Jika tidak dikawal bisa mengancam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Eddie.

Deklarasi berdirinya “Rumah Budaya Satu-Satu” diwarnai apresisasi pergelaran seni budaya tari, teater, sastra dan musik serta lomba kreatifitas anak.

Digelar pula pameran sejumlah benda-benda sejarah dan budaya peninggalan masyarakat “Kampoeng Karanggaan.” Diantaranya seni kerajinan gerabah/keramik), wajan memasak dodol, dan lumpang (alat menumbuk padi berusia hampir 200 tahun), serta berbagai alat rumah tangga dari anyaman bambu yang sangat potensial pada masanya, termasuk sepeda tua bersejarah dari 47 tahun lalu.

LEAVE A REPLY