Beranda EDUKASI Adisurya Abdy Berkreasi Lagi Lewat “Stadhuis Schandaal”

Adisurya Abdy Berkreasi Lagi Lewat “Stadhuis Schandaal”

95
0
BERBAGI
Adisurya Abdy

SEBUAH film dengan setting pada kurun waktu tertentu, membutuhkan konsep artistik yang menggambarkan situasi dan kondisi saat peristiwa terjadi.

Namun untuk menggambarkan setting yang dibutuhkan, tidak semudah mewujudkan cerita di dalam tulisan, perlu perwujudan fisik yang dibuat sesuai dengan konteks cerita. Jika kebutuhan artistik tidak dapat dipenuhi dengan barang-barang, bangunan, lingkungan yang ada, pembuat film harus membuat tiruannya.

Atas pertimbangan sutradara dan produser film Adisurya Abdy bersama timnya, saat ini mereka masih membangun sebuah set berupa tangsi dan benteng Belanda, untuk set khusus film “Stadhuis Schandaal” yang akan diproduksinya.

Set khusus itu dibangun di atas tanah seluas 1.500 m2 di atas tanah milik PT Inter Studio di kawasan Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

“Kita sudah mencoba mencari bangunan-bangunan sisa peninggalan Belanda yang ada di Indonesia, tetapi tidak sesuai dengan kriteria dan mekanisme kerja yang akan kita lakukan, jadi lebih baik membamgun set sendiri, supaya kerjanya lebih bebas,” kata Adisurya Abdy dalam keterangannya.

Ini film pertamanya setelah istirahat selama 14 tahun. Dirinya dan tim akan mulai melakukan pengambilan gambar pada kwartal ketiga November 2017 ini. Selain syuting di set yang dibuat khusus, film ini juga akan melakukan pengambilan gambar di kawasan Kota Tua Jakarta, terutama di Musium Fatahillah, dan di Shanghai, Tiongkok.

Ada dua kurun waktu yang akan ditampilkan dalam film terbaru karya Adisurya Abdy ini, yakni setting jaman kolonial dan kekinian (modern).

“Stadhuis Schandal” mengisahkan tentang Fei (diperankan Amanda Rigbi), seorang mahasiswi Ilmu Budaya Universitas Indonesia sedang mengerjakan tugas kampus mengenai The Old Batavia bersama teman kuliah yang lainnya.

Saat ia mencari bahan dan riset tentang itu di Kota Tua, Fei yakin telah dibayangi oleh seorang gadis cantik keturunan Belanda-Jepang yang kemudian kita kenal dengan nama Saartje Specx, dipanggil Sarah (Tara Adia).

Sosok keberadaan Sarah sempat menghilang dari pandangan Fei, manakala dering perangkat iphone membuyarkan fokus perhatian Fei. Fei sempat bertanya apakah teman-temannya ada yang ikut melihat Sarah? Namun ternyata jawabannya tidak.

Misteri pertemuan antara Fei dan Sarah, selanjutnya membuat Fei tidak dapat menghilangkan pertanyaan dalam fikirannya akan apa dan siapa sosok perempuan muda cantik yangmemperhatikannya di Gedung Fatahillah yang dahulu bernama Stadhuis itu.

Disamping itu Fei memiliki pacar bernama Chiko yang posesif. Hubungan Fei dan Chiko sedang berada pada titik terendah, karena Chiko ingin seutuhnya menguasai serta mengatur Fei.

Hal itu membuat Fei menjadi terganggu, dan terbebani dan perlahan tapi pasti rasa cinta dan sayangnya terhadap Chiko mulai memudar. Namun sebaliknya Chiko tidak ingin kehilangan Fei.

Suatu hari Fei menemani ayahnya, Wisnu , yang seorang pengusaha, mereka bepergian ke negeri Tiongkok. Rekanan bisnis Wisnu adalah seorang pebisnis sukses asal Tiongkok berdarah keturunan Indonesia. Namanya Danny Wong (40 tahun).

Di Shanghai, Tiongkok pada kelanjutannya Fei mengenal Danny Wong secara lebih dekat, dan Fei mengetahui bahwa Ayahnya dan Danny Wong akan memaksimalkan perkebunan sawit mereka di Pulau Sumatera, sekaligus memaksimalkan pabrik pengolahan minyak sawitnya.

Danny Wong kerap ditemani oleh Fei meninjau perkebunan sawit dan pabriknya di Sumatera. Pertemuan demi pertemuan membuat Fei dan Danny mulai semakin dekat, walau usia mereka berbeda agak jauh, namun hati mereka bicara berbeda.

Kembali ke Jakarta, Fei yang masih harus menyelesaikan tugas kampusnya, kembali bersama beberapa temannya mengunjungi Kota Tua sebagai pusat kajian mereka. Disana Sarah kembali muncul memandang Fei dengan senyum memikat.

Fei merasa bahwa ada satu kekuatan, dan sepertinya Sarah memintanya untuk mendekat. Fei dengan tanpa sadar kakinya melangkah mendekati Sarah. Dengan senyum yang lembut tulus memikat, Sarah spontan menyentuh bagian dada Fei, dan seketika situasi masa kini beralih ke masa lalu, persisnya Fei dibawa oleh Sarah menembus lorong waktu menuju kota Batavia pada tahun 1628.

Sarah adalah putri hasil hubungan gelap dari seorang Perwira Tinggi VOC bersama wanita Jepang. Sarah kemudian dibawa oleh ayahnya ke Batavia dan menetap di rumah kediaman Jan Pieterzoon Coen, sang Gubernur Jenderal.

Di Batavia. Sarah yang tumbuh menjadi remaja cantik membuat beberapa perwira VOC baik muda maupun tua tergila-gila. Namun dalam perjalanannya, hati Sarah hanya tertambat kepada seorang perwira muda VOC, salah seorang pengawal JP Coen yang bernama Pieter C.

Pada masa-masa itu, hubungan beda ras dan beda strata tanpa ikatan perkawinan adalah sesuatu yang tabu, dan jika ketahuan maka dianggap hubungan terlarang sebagaimana perselingkuhan, dan hukumannya adalah mati.

Dalam pada itu Chiko yang makin merasa bahwa Fei berupaya menjauh dan menghindar darinya, tidak mau menerima. Terlebih-lebih manakala FEI mengatakan bahwa hubungan mereka sebaiknya disudahi dan putus.

Chiko mulai kelihatan perangai aslinya yang jahat, dan memang sesungguhnya selain childish, Chiko tanpa diketahui oleh teman-teman kampusnya adalah bagian dari sindikat yang seringkali memeras banyak perusahaan. Dengan kata lain, Chiko adalah anggota dari sindikat Cyber Crime.

Cerita dan skenario “Stadhuis Schandaal” ditulis sendiri oleh Adisurya Abdy. Film ini diproduksi oleh PT. Xela Film, dengan produser Omar Jusma. Nama-nama bintang pemeran lainnya dalam “Stadhuis Schandaal” diantaranya Michael Lee sebagai Pieter C, Volland Humonggo (Danny Wong) dan George M Taka (JP Coen).

LEAVE A REPLY