Beranda ENTERTAINMENT Berani Hadapi Kesulitan, Jadi Modal Kembalinya Sineas Adisurya Abdy

Berani Hadapi Kesulitan, Jadi Modal Kembalinya Sineas Adisurya Abdy

150
0
BERBAGI
Adisurya Abdy, paling kiri, saat konferensi pers syukuran produksi film terbarunya, "Stadhuis Schandaal"

Fokuskini – Diperkirakan ada kesulitan untuk sineas Adisurya Abdy dalam menggarap film layar lebar terbarunya, “Stadhuis Schandaal”, oleh karena sisa peninggalan benteng bersejarah pada masa penjajahan Belanda di Jakarta seperti sudah tertelan bumi.

“Memang sudah nggak ada,” kata Adisurya Abdy, “Sementara harus ada adegan-adegan yang terjadi didalam benteng. Kalau bentengnya kita bikin murni CGI (Computer Generated Imagery) nggak akan dapat, Jadi kita harus kombinasikan dengan benteng-benteng Belanda dimana-mana yang kebetulan semua sama miripnya. Benteng Batavia yang pertama di dekat wilayah Pasar Ikan seakan sudah lenyap ditelan bumi,” ujar Kepala Sinematek Indonesia ini

Diyakininya, konsep artistik dari setting tiruan benteng sudah kita peroleh detailnya dari museum dan perpustakaan di Leiden, Belanda serta selebihnya hasil googling karena benteng Belanda di mana-mana nyaris sama arsitekturnya,

Lantas, apakah kekuatan cerita “Stadhuis Schandaal” itu, dikatakannya kita bersama produser Omar Jusma dan PT Xela Film berangkat dari sejarah masa silam dimana tokoh Sarah (Tara Adia) yang merupakan korban hukuman mati itu adalah “arwah penasaran” yang mencoba masuk di kehidupan kekinian melalui tubuh Fei (Amanda Rigbi) demi untuk menyampaikan pesan ke publik bahwa hubungan asmaranya dulu itu berlandasan cinta murni, jauh dari kebutuhan seksual sesaat .

Dengan alasan moralitas itu, Sarah sejak lama membutuhkan suatu media penyampaian yang dimana akhirnya menemukan sasaran tepat pada sosok Fei karena ternyata gadis tersebut punya garis keturunan silsilah serupa.

“Tahapan ending-nya jadi membuat Fei sebagai mahasiswi ilmu pengetahuan budaya ini bukan menuliskan tugas kuliah, tetapi malah menyelesaikan karya novel. Setelah cerita kebenaran dongeng lama itu terbuka, barulah kemudian sosok misterius Sarah dan Pieter (Michael Lee) rela meninggalkan perjalanan kekiniannya, kembali ke alam baka,” paparnya.

Menjawab soal kenapa sineas senior seperti dirinya malah memilih mayoritas pemain-pemain baru, Adisurya Abdy menjelaskan, “Sekarang ini mereka baru, tapi nanti setelah film ini ditonton, mereka akan langsung jadi artis film yang matang.”

Selanjutnya, Adisurya Abdy menyebut dibalik harapan manisnya kembali ke jagat sineas yang sempat ditinggalkannya selama 14 tahun ini, adalah dirinya bisa ikut meramaikan meriahnya industri perfilman Indonesia dengan menawarkan hal-hal baru yang mungkin bisa disukai oleh masyarakat penonton sebanyak-banyaknya.

“Sehingga mereka (para penonton) punya pilihan karena berbagai ragam genre kan itu perlu. Sekarang ini 70 persen genre film horor semua, dan ini bentuk keberanian yang meski berhadapan dengan kemungkinan rugi, kan ini menawarkan sebuah cerita berbeda yang perlu kita galakkan,” ditegaskannya.

LEAVE A REPLY