Beranda NUSANTARA Sigit Santosa Didasari Hobi Daripada Bakat

Sigit Santosa Didasari Hobi Daripada Bakat

181
0
BERBAGI
(foto: ilustrasi)

SIGIT Santosa menggabungkan filosofi berkarya demi kesenangan orang lain sekaligus ingin selalu berbagi ilmu. Pria kelahiran Solo, Jawa Tengah 67 tahun silam itu sampai hari ini masih setia – dan menikmati profesinya sebagai guru di dua perguruan tinggi di Jakarta.

Mengajar mata kuliah lukisan sketsa dan ilustrasi, Sigit seperti memberi martabat baru di dua perguruan yang mengarahkan anak didiknya pada bidang periklanan, fashion dan dunia kreatif lainnya.

Sigit Santosa melangsungkan eksibisi tunggalnya di Balai Soedjatmoko Solo, Surakarta, Jawa Tengah pada 18-23 Januari 2018.

Dia, menurut kurator Bentara Budaya Ardus Sawega, lebih suka menyebut keterampilan yang dimilikinya sebagai hobi daripada bakat. Bakat dianggap bersifat given, karunia yang diperoleh dari langit.

Sigit membuktikan bahwa setiap pekerjaan yang didasari oleh hobi alias rasa senang justru berpeluang berkembang, karena semua dilakukan tanpa beban.

“Saya melukis bukan semata-mata karena merasa punya bakat melukis. Saya bisa main musik, bermain gitar, menyanyi, bikin lagu, juga bukan lantaran saya merasa berbakat musik, melainkan karena sejak remaja saya memang suka musik,“ ungkap Sigit.

Etos itulah yang dia tularkan kepada semua orang yang dia jumpai, termasuk para mahasiswanya. Tidak semua mahasiswanya berbakat melukis, namun dia memotivasi mereka untuk terus belajar dan berlatih dengan didasari rasa senang.

Dia pun menemukan metodologi pengajaran yang unik agar tercipta suasana kondusif; kuliah yang menyenangkan dan inspiratif.

“Saya memang sengaja ingin membuat suasana beda. Kuliah jangan monoton dan kaku. Biar suasana kuliah terasa santai dan menyenangkan, sesekali saya ajak mereka main musik bareng-bareng di kelas. Mahasiswa pun menyambut dengan antusias. Suasana jadi rame, dan kuliah pun jadi terasa asik,“ tuturnya. Tak heran, dia selalu menenteng gitar ke ruang kuliah.

Jalan hidup memang tak terduga. Hobinya menggambar dan bermain musik saat remaja, di belakang hari ternyata saling melengkapi saat menjalani kariernya.

Tak syak, Sigit mungkin sedikit dari seniman yang menerjuni dunia seni dengan sikap menikmati – dalam arti harafiah. Ya, sebagai guru, pelukis, juga entertainer lewat permainan gitarnya.

Bermodal gitar akustik dan peralatan melukis yang selalu menemani, Sigit membuka cakrawala pergaulannya ke berbagai lapisan masyarakat.

Tidak hanya di kampus, tulis Ardus, dia pun siap menggoreskan kuasnya di atas kertas tanpa pandang lokasi. Entah di kantor instansi, kafe, warung, mal, atau ruang publik lain.

Semua itu dia lakukan dengan hati riang dan tanpa pamrih. Sigit dengan mudah menemukan sasaran – obyek yang hendak dia lukis. Si “korban“ biasanya dengan senang hati mau dia lukis. Apalagi hasil sketsa yang indah itu dia berikan cuma-cuma.

LEAVE A REPLY