Beranda EDUKASI “Moonrise Over Egypt”, Kisah Perjuangan Diplomasi Haji Agus Salim

“Moonrise Over Egypt”, Kisah Perjuangan Diplomasi Haji Agus Salim

357
0
BERBAGI

Fokuskini – The Grand Old Man, Haji Agus Salim mencatatkan perjuangan diplomatik bangsa Indonesia untuk memperoleh pengakuan internasional atas kedulatannya melawan upaya-upaya Belanda yang masih berkehendak menjajah dengan melontarkan isu-isu kemerdekaan RI sekadar menjadikan Indonesia sebagai negara boneka fasis Jepang.

Peran dedikasi H Agus Salim menggandeng pengakuan RI ke Mesir dan negara-negara Islam lainnya diangkat ke film layar lebar oleh TVS Films dalam tajuk “Moonrise Over Egypt” djadwalkan tayang serentak di Indonesia mulai 22 Maret mendatang.

Amir Sambodo selaku eksekutif produser meyakini, “Moonrise Over Egypt” merupakan film nasional pertama yang mengedukasi tentang perjuangan diplomasi, di antara perjuangan fisik dan politik RI dalam revolusi kemerdekaan melawan praktik penjajahan kolonial.

Amir menyebutkan, muatan film ini tetap memiliki relevansi sejarah sampai masa sekarang dan masa depan bangsa Indonesia. Mengingatkan kembali kepada publik sampai kaum generasi milenial ihwal perjuangan nasional yang dibarengi kisah cinta dan pengkhianatan.

Faktor riset faktual sejarah masa lalu menjadi bagian terpenting dalam penggarapan skenario “Moonrise Over Egypt”, meski ditangani debut penyutradaraan film oleh Pandu Adiputra, karena ada dukungan penuh melalui kekuatan cerita sejarah yang dihimpun dari pihak keredaksian Majalah Historia.

Sebagai sosok penentu sejarah Indonesia merdeka, Haji Agus Salim dikenal tidak memiliki ambisi politik karena menolak jabatan menteri yang ditawarkan Bung Karno, tetapi rela menjalankan tugas negara untuk melakukan perjuangan diplomasi sekira tahun 1947 demi buat Republik Indonesia mendapatkan pengakuan kedaulatan dan sokongan politik dari Mesir dan negara-negara Islam.

“Penugasan khusus tersebut menjadikan dia terpaksa menerima jabatan sebagai Menteri Muda untuk tugas negara dalam tim kerja diplomatik yang dipimpinnya itu bersama AR Baswedan, HM Rasjidi dan Natsir Pamoentjak,” kenang Amir Sambodo saat acara jumpa wartawan di kawasan Jakarta Selatan.

LEAVE A REPLY