Beranda EDUKASI Seni Pewayangan Hindari Politisasi, Dekati Publik Muda

Seni Pewayangan Hindari Politisasi, Dekati Publik Muda

278
0
BERBAGI

Fokuskini – Pergelaran wayang dalam realitas sosial, politik dan kebudayaan tetap diperlukan dan masih mungkin dimanfaatkan untuk kepentingan kampanye partai politik bahkan sampai kegiatan-kegiatan mengiringi pemilihan kepala negara. Sehingga kalangan organisasi pewayangan di Indonesia menilai butuh secepatnya mengeluarkan pernyataan bersama tentang independensi dan netralitas tanpa keberpihakan sama sekali pada kelompok politik.

Namun harus diakui pula, kini seni pewayangan sudah lama ditinggalkan oleh publik muda bahkan sampai bocah sekolah dasar dan taman kanak. “Simboliknya (jagat pewayangan) sudah tidak nyambung lagi dengan para pemuda jaman now,” ujar Prof Teguh Supriyanto, Guru Besar Sastra Universitas Negeri Semarang yang juga Anggota Dewan Pakar Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Sena Wangi) seusai acara Pernyataan Bersama Organisasi Pewayangan Indonesia di Gedung Pewayangan Kautaman, Taman Mini Indonesia Indah hari Selasa sore tadi (27/2/2018).

“Kami kini menjalankan program digitalisasi melalui berbagai gim permainan di media sosial untuk mempopulerkan kembali wayang orang dan wayang kulit. Menyatukannya dengan dunia pendidikan,” imbuhnya.

Presiden Dewan Eksekutif UNIMA Indonesia, Samodra Sriwidjaja menyebutkan peranan Kementerian Luar Negeri bekerjasama dengan pihaknya telah menerbitkan 12 jilid komik pewayangan bagi anak Indonesia yang bermukim di luar kawasan RI.

Melalui program “Wayang for Student”, mereka juga melakukan pergelaran wayang golek dengan bahasa milenial. “Mengajak dialog langsung dalam bahasa gaul, ditanggapi oleh anak muda dengan cepat. Kalau dengan pengertian pakem tidak nyambung,” jelasnya,

“Beberapa cara pengenalan kembali pada seni pewayangan adalah membuat mereka supaya tertarik melalui wayang boneka yang dijadikan film animasi. Sebagai bagian upaya agar wayang dicintai dan didekati anak-anak muda. Pergelaran wayang orang juga mengandalkan lakon-lakon sejarah yang bukan kisah Ramayana dan Mahabarata saja,” terang Dr Sri Teddy Rusdy, pakar filsafat wayang yang ikut pula hadir menandatangani Pernyataan Besama Organisasi Pewayangan Indonesia.

Di tingkat perguruan tinggi, pihaknya bersama Fakultas Filsafat Wayang Universitas Gajah Mada dibantu Ketua Dewan Kebijakan Sena Wangi, Solichin telah menerbitkan buku-buku antologi hingga filsafat wayang sistematis, dan mendirikan pusat pengkajian supaya seni pewayangan mampu diterima ilmu pengetahuan akademis.

LEAVE A REPLY