Beranda RAGAM Tiga Kelompok Gempa Bumi yang Bawa Dampak di Jakarta

Tiga Kelompok Gempa Bumi yang Bawa Dampak di Jakarta

205
0
BERBAGI

MENANGGAPI isu terkait tentang wilayah DKI Jakarta berpotensi Gempa Megathrust sebesar 8,7 SR. Ditegaskan oleh Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendar bahwa di wilayah Indonesia pada umumnya memiliki kerentanan terhadap gempa bumi, baik yang berasal dari zona subduksi (tumbukan), intraslab (zona dalam pertemuan kerak samudera dan kerak benua), maupun patahan di darat. Namun hingga saat ini belum ada cara untuk memprediksi kejadian gempa bumi (tempat, waktu, dan besaran) secara tepat.

“Wilayah yang berpotensi mengalami gempa bumi tidak hanya di Jakarta. Dari ujung utara barat Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Sumbawa, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Maluku, Papua, memiliki kerentanan terhadap kegempaan, jadi bukan hanya Jakarta,” jelas Rudy di Bandung, Jawa Barat hari Kamis tadi (8/3/2018).

Jalur Megathrust memanjang dari sebelah barat ujung utara Sumatera ke selatan Jawa hingga di selatan Bali dan Nusa Tenggara terbagi-bagi ke dalam beberapa segmen, salah satunya segmen di selatan Selat Sunda.

Megathrust merupakan salah satu jenis sumber gempa bumi dengan mekanisme sesar naik, dan ukurannya sangat besar terbentuk dari proses subduksi (tumbukan) antara dua lempeng tektonik, dimana salah satunya menunjam ke bawah.

Sedangkan untuk potensi gempa yang ada di Jakarta, Rudi menjelaskan bahwa secara geologis ada tiga kelompok gempa bumi yang memungkinkan dapat menimbulkan dampak di wilayah Jakarta, yaitu pertama adalah sumber gempa bumi dari subduksi (megathrust).

Jaraknya zona subduksi lebih dari 200 km terhadap kota Jakarta. Jika terjadi gempa bumi besar (8-9,5 MW) yang bersumber dari zona subduksi dapat merambat hingga wilayah Jakarta, intensitas biasanya menurun karena amplifikasinya tinggi, dan dapat berdampak pada bangunan dan infrastruktur yang tinggi.

Berikutnya yang kedua adalah sumber gempa bumi dari intraslab (zona dalam pertemuan kerak samudera dan kerak benua, kedalaman umumnya lebih dari 90 km) dengan posisi pusat gempa terletak di bawah wilayah Jakarta.

Maksimum magnitudo diperkirakan lebih kecil daripada gempa bumi subduksi, namun dapat juga menimbulkan efek kerusakan terutama terhadap bangunan dan infrastruktur tinggi.

Urutan ketiga merupakan sumber gempa akibat aktivitas patahan aktif di darat sekitar Jakarta. Magnitudo maksimum pada umumnya lebih kecil daripada gempa bumi dangkal, dampak gempa bumi bisa berpengaruh langsung terhadap bangunan perumahan rakyat dan gedung yang tidak terlalu tinggi.

“Gempa itu given, pasti terjadi, hanya kapan dan waktunya yang kita semua belum tahu. Efeknya sama, di tempat lain yang secara geologinya tersusun oleh batuan yang masih lunak itulah yang potensi gempanya ada seperti di wilayah Bandung, Jakarta, Aceh, dan Padang,” diingatkan Rudy.

Rudy lebih lanjut menjelaskan, wilayah Jakarta dan sekitarnya masih bisa dikatakan aman dari gempa bumi selama seluruh pihak tetap waspada, melakukan kajian mendalam mengenai bahaya guncangan gempa bumi, dan memasukkan kajian ini ke dalam rencana tata ruang yang harus dipatuhi oleh pemerintah dan masyarakat.

“Jakarta dikategorikan relatif bisa ditinggali oleh masyarakat. Dimanapun, di Jakarta dan (wilayah) lainnya harus melakukan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap gempa. Bagaimana menata ruangnya harus berbasis kebencanaan, termasuk semua infrastruktur bangunan harus mempertimbangkan aspek kegempaan. Itu salah satu mitigasi pengurangan resiko bencana gempa,” saran Rudy.

LEAVE A REPLY