Beranda ENTERTAINMENT “Remembering Chrisye”: Terima Kasih buat Kaidah Musik Pop yang Elegan

“Remembering Chrisye”: Terima Kasih buat Kaidah Musik Pop yang Elegan

176
0
BERBAGI
Ferry Mursyidan Baldan didampingi aktor pemeran Chrisye, Vino G Bastian dan istri (foto: DSP)

Fokuskini – Chrisye atau lengkapnya Chrismansyah Rahadi, pria seniman pop ini semula publik mengenalnya sebagai pemain bas di grup band Sabda Nada yang berganti nama jadi Gipsy, serta The Pro’s pada dekade 1960/1970 — dan siapa sangka kalau kemudian ternyata potensi vokalnya memiliki karakter pemikat, dan tiada penggantinya sampai saat ini di panggung industri panggung hiburan Indonesia.

Karier unik dan menyentak Chrisye di benak para penggemarnya mungkin bisa diselaraskan dengan Phil Collins, dilihat dari gerak pemuncak keduanya yang semula hanya serius bermusik di grup band bergenre progresif rock.

Phil Collins awal mulanya duduk di belakang pandangan mata publik jadi pemain drum Genesis, dan terbilang dadakan bertanggung jawab sebagai vokalis setelah Peter Gabriel yang memilih hengkang.

Adapun istimewa Chrisye mulai dari 1970-an sampai wafatnya sekira sebelas tahun lalu, ya pastinya ikutan mengubah alur pop di negeri ini ketika justru harus berhadapan langsung dengan turbulensi pasar demikian bersaing sejak putaran larisnya Ikang Fawzi, Franky & Jane, Ebiet G Ade, Fariz RM, Farid Hardja, Harvey Malaihollo, Pance, Iwan Fals hingga Ari Lasso dan Judika di dekade 1990-an, ataupun kemudian bermunculan sederetan pria penyanyi periode 2000-an seperti Glenn Fredly, Sandhy Sondoro, Once, Mike Mohede, Judika dan Marcello Tahitoe

Lepas dari semuanya itu, maka posisi Chrisye yang berhasil dimanfaatkan bukan hanya karena bermodal voice yang spesial tetapi pada kenyataannya dia berhasil pula memperkuat makna kekuatan lirik dari para pencipta lagu atau komposer dan juga takaran penata musiknya.

Ini semakin dikuatkannya melalui rilis album keduanya, “Sabda Alam” (1978) yang berupa hasil kolaborasi Chrisye dengan Guruh Soekarnoputra dan Junaedi Salat serta melibatkan peran serta Yockie Suryoprayogo dan Keenan Nasution.

Oh iya di tahun 2007, “Sabda Alam” malah dinobatkan sebagai salah satu produk album rekaman pop Indonesia terbaik sepanjang masa versi majalah Rolling Stone Indonesia.

“Sabda Alam” menyimpan pesan budaya Nusantara, kisah kasih sesama manusia, permasalahan sosial anak muda, dan lebih dari segalanya awet untuk dinikmati hingga kini.

Ada tiga lagu ciptaan Guruh Soekarnoputra yang mengilap sampai selamanya yakini “Anak Jalanan”, “Kala Sang Surya Tenggelam” dan “Smaradhana” selain sokongan kualitas Juaedi Salat yang dominan memuat karya-karya lagunya termasuk “Sabda Alam”, “Juwita”, “Duka Sang Bahaduri”, “Cita Secinta”, “Nada Asmara” dan “Citra Hitam”. Disini juga terdapat lagu ciptaan Chrisye, “Adakah”.

BUkan cuma itu, Chrisye dibantu Junaedi Salat tercatat indah menyusun satu lagu bertajuk “Damba di Dada” (album ketiga “Percik Pesona”,1979), dan pula lagu karyanya sendiri bertajuk “Pantulan Cita” dijadikan judul albumnya yang keempat (1981).

Di album kelima “Resesi” (1983), Chrisye bersama-sama Eros Djarot menghadirkan lagu “Lenny”, “Resesi” dan “Hening”. Chrisye lebih banyak berperan selaku penulis lagu di album kesembilan bertajuk “Sendiri” (1984) dengan dukungan Eros Djarot, meski judul albumnya sendiri merupakan titel lagu karya cipta Guruh Soekarnoputra.

Potensi besar Chrisye sebagai penulis lagu semakin terukur dalam album kesepuluh, “Aku Cinta Dia” (1985) berkolaborasi sepenuhnya dengan Adjie Soetama.

Reputasi pria seniman musik ini juga membawa spirit besar konser buatan negeri sendiri yang tidak mau kalah hasilnya dengan pesta panggung musik internasional. Kolaborasinya dengan Erwin Gutawa selaku perancang tatanan musik dan desain artistik pertunjukan yang sepenuhnya jadi gagasan Jay Subyakto membuat konser Chrisye sejak 1994 hingga 2004 selalu mampu membangkitkan gengsi musik dalam negeri dengan penonton berduyun-duyun tanpa menyisakan kursi kosong, bikin tiket ludas serta menyihir kepuasan tak terhingga dari segenap penontonnya.

Sesungguhnya memang sejak album perdana “Jurang Pemisah” (1977) sudah pula menjadi bagian alasan kuat dari politisi Nasional Demokrat, Ferry Mursyidan Baldan untuk setia menjadi penggemar Chrisye yang bukan saja dia rajin mengkoleksi beragam pernak-pernik terkait Chrisye, karena kenyataannya sampai dengan dokumentasi artikel ikhwal Chrisye di berbagai media pemberitaan juga disimpannya jadi memorabilia yang tersusun rapi.

Rutin kini selalu berziarah ke makam Chrisye setiap tanggal 30 Maret, Ferry bahkan sedari lama telah diketahui sampai membentuk Komunitas Kangen Chrisye (K2C) yaitu sejak masih semasa kuliahnya di Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat dengan mengadakan pentas kekeluargaan K2C bersama-sama menghadirkan grup band pengiring dimana mereka semua sukacita menyanyikan lagu-lagu hits Chrisye secara bergiliran.

Spirit kecintaan Ferry terhadap karya-karya musik serta karakter citra suara Chrisye, juga membuat politisi merakyat ini sudah menerbitkan dua buku bermuatan komentar, artikel dan pujian sejumlah awak media pers, rekanan dan kelompok penggemarnya. Pertama kali bertajuk “Chrisye: Kesan di Mata Media, Sahabat dan Fans”, dan pada kedua kalinya mengambil judul “10 Tahun Setelah Chrisye Pergi: Ekspresi Kangen Penggemar”.

Ferry mengakui bisa langsung intim dengan lagu-lagu yang dipopularkan Chrisye karena lirik-liriknya akrab menyentuh dan sekaligus sempat jadi terapi keseharian, sepanjang dia pernah duduk sebagai wakil rakyat di parlemen dan kemudian menjabat Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional.

Bukan hanya lirik-lirik asmara yang memukau dan menyentuh, tetapi juga seperti dikatakan Ferry bahwa Chrisye mampu membawakan lagu-lagu sosial kemasyarakatan dengan mantep, berikut rohaniahnya yang dekat dengan Tuhan Pencipta Alam Semesta seperti misalnya lagu “Hening” yang dibuatnya bareng Eris Djarot dan Yockie Suryoprayogo, dan beginilah kandungan muatan lirik lagunya:

//Kala malam tiada berbintang/Tampak redup wajah rembulan/Hening sunyi sangat mencekam/Desir angin pun tanpa suara/Kutermenung menatap alam/Kepasrahan semakin dalam/Jagat raya dan seisinya/Lukisan segala kuasa/Kehidupan di alam semesta/Mengagumkan dan luar biasa/Semakin kurasa keagungan ini/Karya ciptamu Tuhan/Embun pagi dan rerumputan/Hijau daun dan warna bunga/Kicau burung yang hinggap di dahan/Matahari bersinar terang/Dan semua ini semakin kurasa/Sebagai nikmat yang telah kauberikan/Takkan kulangkahkan kakiku lagi/Tanpa bimbinganmu Tuhan/Kala malam tiada berbintang/Kutermenung menatap alam/Hening sunyi sangat mencekam/Kepasrahan semakin dalam/Embun pagi dan rerumputan/Matahari bersinar terang/Kicau burung yang hinggap di dahan/Lukisan segala kuasa//.

Kini sepanjang jarak Chrisye telah pergi selama-lamanya meninggalkan kita menjumpai Sang Khalik terhitung dari sebelas tahun lalu (30 Maret 2007) dengan catatan reputasi 22 album solo termasuk “Resesi” dan “Badai Pasti Berlalu”, serta penghormatan khusus lewat film drama biografi “Chrisye” — kita layak mengucapkan terima kasih kepada kaidah musik pop elegan yang telah dinyanyikan Chrisye.

LEAVE A REPLY