Beranda HEADLINE Praktik Farmasi Setara dengan Semua Sektor Profesional Kesehatan

Praktik Farmasi Setara dengan Semua Sektor Profesional Kesehatan

180
0
BERBAGI
Ketua Umum Pengurus Pusat IAI Drs Nurul Falah Eddy Pariang, Apt menyampaikan keterangan pers

Fokuskini – Kongres Nasional XX dan Pertemuan Ilmiah Tahunan dari Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) dijadwalkan berlangsung di Labersa Grand Hotel & Convention Center, Pekanbaru, Riau mulai hari Rabu (18/4/2018) hingga 21 April mendatang dengan mengusung tema Trusted Pharmacist for a Better Quality of Life. “Kita memang ingin menjadikan praktik farmasi sebagaimana masyarakat luas percaya pada profesi sektor kesehatan lainnya,” jelas Ketua Umum Pengurus Pusat IAI, Drs Nurul Falah Eddy Pariang Apt dalam keterangannya.

Apoteker-apoteker kini menghadapi tantangan dimana, diakuinya, masih ada sejumlah apoteker yang memilih tidak berdinas di apotek-apotek. Padahal, menurut Nurul Falah, sebagai tenaga kesehatan yang bertanggung jawab di apotek mestinya sepanjang apotek buka harus ada apotekernya.

“Jadi, saat ini sudah tidak cukup lagi satu orang apoteker saja di apotek. Mestinya ada lebih dari satu, kecuali kalau cuma punya satu ya maka tutup selesai waktu praktik apotekernya saja. Kalaupun tetap mau buka, cukup menyediakan obat-obat tanpa resep dokter,” harap dia.

Kalau apoteker melayani langsung pasien, nanti pasiennya jadi memiliki trust (percaya) kepada apoteker. “Sehingga, sebetulnya yang kita harapkan itu masyarakat malah bisa lebih percaya kepada apotekernya bukan kepada apoteknya,” ditegaskan oleh Nurul Falah.

Disayangkannya, kepada profesi apoteker sekarang ini pertimbangan masyarakat membeli obat dipengaruhi oleh nama besar apoteknya, murah obat-obatnya, bertempat parkir luas, ngasih diskon gede, dan obat-obatnya lengkap.

“Padahal, harusnya masyarakat percaya kepada sosok apotekernya, membantu informasikan dosis obatnya secara betul ketika menyerahkan obatnya, menerangkan cara penggunaannya, kemungkinn efek sampingnya dan kemungkinan interaksi kalau obatnya lebih dari satu macam, cara menyimpannya kalau obat itu sensitf yang harus disimpan di suhu tertentu,” ujar lanjut penjelasannya.

“Itulah praktik kefarmasian yang harus masyarakat pahami, sehingga kalau masyarakatnya terus menerus rela berlangganan kepada apoteker, apotekernya berkewajiban membuat catatan obat pasien tergantung derita sakit si pasien, dan saling berinformasi kalau obatnya habis apakah sudah berkonsultasi ke dokter dan bagaimana penyakitnya apakah sudah mendingan atau belum karena tugas dokter dan apoteker kan demi kesembuhan si pasien. Kalau sekarang kan umumnya pasien tidak peduli dengan obat yang dibelinya dan apotekernya tidak melayani dengan benar. Harusnya praktik dokter dan apoteker sama-sama berkolaborasi,” paparnya pula.

Kalau apoteker cuma melayani penjualan obat, dianjurkan Nurul Falah, gak usah tinggi-tinggi berpenddikan farmasi karena apoteker mesti jadi penjamin mutu obat sesuai kebutuhan pasien.

“Kalau perlu, harus ada monitoring pada setiap pasien pembeli obatnya. Menuju upaya kesitu, kita kini selalu melakukan advokasii-advokasi untuk praktik apoteker yang bertanggungjawab, indikatornya dia harus hadir menemui pasien, dia mesti mengerti penyakit pasien dan obatnya. Kalau misalnya dokternya spesialis pengobatan tertentu maka apotekernya juga harus ahli disitu. Artinya, mereka juga wajib belajar lagi untuk memperpanjang kompetensinya melalui program berpendidikan berkelanjutan (Continuing Professional Development),” tambahnya.

LEAVE A REPLY