Beranda ENTERTAINMENT IIMF Dukung Para Pelaku Musik Indie Indonesia Masuk Jajaran Internasional

IIMF Dukung Para Pelaku Musik Indie Indonesia Masuk Jajaran Internasional

217
0
BERBAGI
Ian Faster, paling kiri, bersama Birgi Putri dan Glenn Sinsoe (foto: Fre)

Fokuskini – Catatan menarik lainnya dari penyelenggaraan International Indie Music Festival terkait acara tahunan Pekan Raya Indonesia di Indonesia Convention Exhibition, BSD City, Tangerang, Banten adalah ikut sertanya peraih Sampoerna GoAhead Challenge 2015 yaitu Kristianto Suryo Adi Prabowo alias Ian Faster yang berencana berkolaborasi dengan grup band indie Foxtails Brigade asal California, Amerika Serikat.

Ian profesi gajiannya adalah seorang tenaga profesional farmasi yang kini bertugas kerja di kawasan Sukabumi, Jawa Barat. “Hobi saya bermusik sejak masih sekolah menengah pertama (SMP), dan berlanjut hingga kini terus-terusan bikin lagu dan recording sendiri (di studio rumahan milik pribadi) dan kerapkali hasilnya diunggah ke sosial media,” diterangkan Ian akhir pekan ini.

Dirinya yang sudah punya lebih dari 50 lagu bakal berkolaborasi dengan Foxtails Brigade lewat lagu “Hantu di Jendela”, karyanya yang semula dibuat berlirik berbahasa Inggris. Diakuinya, lagunya tersebut merupakan pengalaman sendiri dari semasa bocah.

“Percaya atau tidak, ini bisa dibilang (mirip) gangguan skizofrenia (didalam diri Ian). Intinya, saya juga tidak mengerti, percaya gak percaya, dan saking kesel malah dibikin jadi lagu. Lagu ini pernah menang di Sampoerna GoAhead Challenge 2015 yang bisa membawa saya bisa main di Melbourne, Australia. Mungkin menang karena dinilai pop unik, kan yang bermuatan lirik horor biasanya band genre death metal aja. Tapi yang berlirik horor ya cuma itu, yang laennya ngebanyol semua. Ada judul Nasi Habis, karena saya memang selalu coba bikin tema-tema lagu tidak biasa, sampai ada yang bercerita tentang alien meski tetap punya lagu cinta, dan memakai lirik bahasa Ngapak karena ngelihat koq orang banyak suka lagu berbahasa Korea padahal gak tau ngerti kaganya toh tetep suka. Dengan konsep modern kemudian dicoba buat lagu (berjudul) Ora Oraha (Setidak-tidaknya) sebagai singel pertama saya,” kisah pria kelahiran Puwokerto, Jawa Tengah itu.

Kesepakatan pemusik berkolaborasi di IIMF 2018 atau bahkan mungkin sampai membuat singel lagu dengan band indie dari luar Indonesia, menurut CEO Deteksi Production Harry “Koko” Santoso selaku tokoh pegiat konser akbar di negeri ini yang turut menggagas International Indie Music Festival, bakal dipayungi oleh pihak penyelenggara PRI yang medukung upaya keras semua teman-teman band dan musisi indie se-Indonesia menjadi bagian entertainment musik internasional.

LEAVE A REPLY