Beranda NUSANTARA Saksi Ahli Sampaikan 2 Azas Hukum di Sidang Pidana Dua Petinggi STT...

Saksi Ahli Sampaikan 2 Azas Hukum di Sidang Pidana Dua Petinggi STT Setia

274
0
BERBAGI
Rektor STT Setia, Pdt Matheus Mangentang

PAKAR hukum pidana Dr Eva Achjani Zulfa SH MH menyampaikan dua azas yakni ultimum remedium dan nebis in idem saat hadir menjadi saksi ahli pada persidangan lanjutan kasus hukum yang menimpa Rektor dan Direktur Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar (SETIA), Matheus Mangentang dan Ernawaty Simbolon di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, pekan ini.

Azas hukum ultimum remedium adalah penerapan sanksi pidana yang pamungkas (terakhir), ketika sanksi administratif ataupun sanksi-saksi lainnya tidak bisa lagi diterapkan.

“Banyak sekali kasus-kasus hukum yang menggunakan azas ini dalam tindakan penyelesaiannya. Misalnya dalam kasus pajak, seorang yang diancam hukuman pidana, bisa dihapuskan sanksi pidananya jika dia mengaku bersalah, dan langsung bersedia membayar tunggakan pajak dan denda-denda pembayarannya,” jelas Dr Eva.

Mencontohkan kasus lainnya, disebutkan juga di persidangan tentang kasus KTP ganda dimana pelakunya tidak bisa dipidana, karena kesalahan ada di negara yang mengeluarkannya.

Namun menjawab Jaksa Penuntut Umum tentang apakah azas hukum tersebut bisa dipergunakan untuk semua kasus permasalahan tuntutan pidana, dia mengatakan itu tergantung pada konteksnya, dan pasti tidak bisa dipergunakan dalam UU Tipikor maupun UU Antiterorisme.

Kemudian, pada kesempatan menjawab Penasihat Hukum kedua terdakwa yaitu Tommy Sihotang SH. Menurut Dr Eva sebagai saksi ahli, bahwa arti dari azas hukum nebis in idem adalah seseorang tidak dapat disidangkan lebih dari satu kali dalam sidang perkara tuntutan yang sama.

Dr Eva mencontohkan satu perbuatan tindak pidana seseorang memecahkan kaca etalase milik orang lain. Saat di persidangan, orang tersebut dibebaskan, maka dengan itu tidak bisa lagi dia diperkarakan hukum dalam kasus serupa.

Ihwal persidangan kasus pidana terhadap Matheus Mangentang dan Ernawaty Simbolon, keduanya didakwa telah menyelenggarakan lembaga pendidikan tanpa izin dan melakukan penerbitan ijazah secara tidak sah.

Adapun perkara hukum serupa sudah pernah disidangkan secara perdata maupun pidana, yakni persidangan perdata di PN Jakarta Barat dan persidangan pidana di PN Tangerang.

Sesuai hasil persidangannya hingga ke tingkat kasasi di Mahkamah Agung, Pdt Matheus Mangentang dinyatakan telah memenangkan perkara perdatanya, kemudian memenangkan pula sidang tuntutan pidananya di PN Tangerang. (joj/yay)

LEAVE A REPLY