Beranda HEADLINE Mengejutkan, Rektor STT Setia Dituntut 9 Tahun Penjara

Mengejutkan, Rektor STT Setia Dituntut 9 Tahun Penjara

321
0
BERBAGI
Pdt Dr Matheus Mangentang

Fokuskini – Mengomentari tuntutan hukum pidana 9 tahun serta denda IDR 1 miliar dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) atas dirinya pada sidang peradilan pidana yang berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur hari Senin siang tadi (21/5/2018) — Rektor Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar (STT Setia) Pdt Dr Matheus Mangentang menyebut pengajuan tuntutan JPU itu sangat kelewat batas

“Memangnya saya pelaku kriminal? Memangnya saya koruptor? Memangnya saya korupsi uang negara?“ kata Matheus Mangentang, jengkel.

Sidang lanjutan di PN Jaktim, awal pekan ini telah menggelar perkara pidana dua petinggi STT Setia, Matheus Mangentang dan Ernawaty Simbolon atas kasus dugaan penerbitan ijazah palsu dan kelangsungan program pendidikan di STT Setia yang beralamat di Batuceper, Kota Tangerang, Banten.

Sebagai tokoh agama yang berjasa sebagai penyelenggara lembaga pendidikan bagi ribuan mahasiswa, dan bahkan 654 orang sudah lulus dan tersalur jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), menurut Matheus, tuntutan JPU itu tidak wajar. “Seolah-olah saya pelaku kriminal,” gerutu Matheus Mangentang.

Tetapi, pastinya, Matheus masih berharap dalam vonis persidangannya nanti para Majelis Hakim mau melihat fakta-fakta yang ada, apalagi kasus dengan dakwaan serupa sudah disidangkan beberapa kali dan dia divonis bebas.

“Itu kan baru tuntutan (JPU). Belum vonis (hakim di persidangan), dan saya masih punya upaya banding. Jadi urusan masih panjang,” ungkap Matheus, optimistis.

Diingatkannya lagi, bahwa di balik bergulirnya kasus-kasus hukum ini ada upaya perebutan aset kepemilikan STT Setia yang nilainya hingga ratusan miliar rupiah. Dia menuduh pihak pihak yang memperkarakannya masih mengincar senilai aset besar tersebut.

Agenda persidangan tersebut akan dilanjutkan hari Kamis (24/5/2018) untuk mendengarkan pembacaan pembelaan dari tim pengacara dan terdakwa.

Pada persidangan pekan lalu, sebanyak enam saksi untuk meringankan telah dihadirkan. Para saksi meneringankan antara lain ketika itu mengakui, “Mereka menjadi siswa ke STT Setia untuk sekolah agama dan ditugaskan mengabdi di wilayah pelosok pedalaman. Kemudian sebagian ditawari menjadi guru SD untuk disalurkan ke sekolah-sekolah di bawah naungan STT Setia. Namun diantara lulusan STT Setia ada juga yang melamar menjadi guru sekolah negeri, dan diterima menjadi PNS.”

Tim pengacara untuk dua petinggi STT Setia dari firma hukum Tommy Sihotang & Partners, menyatakan pengajuan tuntutan itu menunjukkan JPU tidak melihat fakta-fakta yang ada di persidangan. (joj/jos)

LEAVE A REPLY