Beranda KESEHATAN APBI Tampung Para Apoteker Bersektor Produksi Bahan Alam

APBI Tampung Para Apoteker Bersektor Produksi Bahan Alam

301
0
BERBAGI

MENGEMBANGKAN bahan obat berbasis bahan alam merupakan salah satu kompetensi dan keahlian apoteker Indonesia, sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus.

Apoteker Praktek Bersama Indonesia (APBI) mengkhususkan diri mewadahi para apoteker yang memiliki kompetensi, keahlian dan fokus perhatian di sektor produksi bahan obat berbasis bahan alam.

“Salah satu fungsi APBI ini adalah menampung produk apoteker yang bahan bakunya berbasis bahan alam,” ungkap Drs Abdurrahman Apt, Sekjen APBI disela Rakernas IV di Jakarta.

Selain menjadi wadah bagi produk yang dihasilkan oleh anggotanya, tugas APBI adalah memberikan bekal kepada para anggota agar dapat mengedukasi masyarakat dan pasien mengenai bahan obat berbasis bahan alam.

Kemampuan dalam memberikan edukasi mengenai bahan alam ini menjadi nilai lebih dari anggota APBI. Mereka tidak hanya mampu melakukan edukasi obat kimia, tapi juga bahan alam yang sekarang sudah cenderung dipilih oleh masyarakat.

Dalam rakernas bertema “Optimize opportunity of Holistic Swamedication of Pharmacy Practice on JKN Era”, salah satunya adalah membahas cetak biru praktik pelayanan swamedikasi holistik yang akan menjadi ikon APBI. Cetak biru gambaran rencananya dilengkapi dengan pelatihan-pelatihan untuk memberi bekal bagi pelayanan swamedikasi tersebut.

Sejumlah peraturan yang dikeluarkan oleh BPOM maupun Kementerian Kesehatan RI, sudah mulai cenderung mengangkat produk berbasis bahan alam yang termasuk dalam pelayanan kesehatan tradisional.

“Hal itu kita tangkap menjadi salah satu tema, yaitu menciptakan apoteker yang profesional dan sejahtera. Kesejahteraan itu dibangun melalui praktik, didalam praktik itu kita melihat ada celah yang disebut pelayanan swamedikasi. Inilah yang kita kelola untuk menjadi peluang agar kesejahteraan meningkat. Tidak hanya swamedikasi untuk obat wajib apotek saja, tetapi juga swamedikasi dari bahan obat berbasis bahan alam, sehingga disebut swamedikasi holistik. Jadi, bagaimana kita mengoptimalkan kesempatan swamedikasi holistik sebagai bagian tak tepisahkan dari praktik kefarmasian pada era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Itulah yang kita bahas dalam rakernas kali ini,” tambah Rahman.

Perkembangannya kemudian adalah bagaimana menciptakan kultur, agar apoteker dapat melakukan praktik kefarmasian sesuai UU yang berlaku. Caranya adalah dengan pelatihan dan komunikasi yang terus menerus, sehingga pekerjaan swamedikasi holistik ini menjadi pilihan. Apabila sudah menjadi pilihan dan menjanjikan kesejahteraan, pasti para apoteker akan mau melakukannya.

Menurut Rahman, selama ini apoteker di komunitas enggan melakukan praktek kefarmasian karena tidak memiliki cukup referensi disamping bahan edukasi yang belum cukup komprehensif. Ditambah lagi, selama ini belum terbukti bahwa melakukan pelayanan swamedikasi ini merupakan peluang untuk menciptakan kesejahteraan.

“Ini merupakan pekerjaan besar kita. Pelayanan swamedikasi holistik ini nantinya akan menjadi ikon APBI. Organiasi profesi kita lebih banyak pada urusan yang terkait pada pengembangan entrepreneurship (kewiraswastaan) berbasis nilai keprofesian,” ungkap Rahman.

Kendati baru berusia 3 tahun, APBI saat ini telah memiliki 450 anggota yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Organisasi kefarmasian ini juga telah mendirikan Pengurus Daerah di 90 persen provinsi di Indonesia.

LEAVE A REPLY