BERBAGI

Fokuskini – Dr Tommy Sihotang SH selaku ketua tim pembela atas dua terdakwa, Rektor dan Direktur Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar (STT Setia), Matheus Mangentang dan Ernawaty Simbolon menyebutkan ada banyak kejanggalan dalam tuntutan perkara pidana ini, serta terkesan dipaksakan secara terus menerus, dikejar terus, sampai memaksa melakukan penahanan segala.

“Kurang kerjaankah, polisi mengejar-ngejar warganegara yang berprofesi sebagai pendidik dan pendeta?!” tanyanya, kesal

Selanjutnya, Tommy juga menegaskan rencana pihaknya untuk melaporkan kasus perkara persidangan tersebut kepada Jaksa Agung.

Padahal kan, jelas Tommy, dengan sudah adanya sanksi administratif yang telah diterapkan oleh Dirjen Dikti kepada STT Setia, maka tidak diperlukan sanksi pidana lagi .

Ditambahkannya pula, bahwa dengan tidak adanya minimal dua alat bukti yang sah untuk menyatakan terdakwa menyelenggarakan kegiatan pendidikan tanpa izin. Maka dengan demikian pasal-pasal yang didakwakan oleh kubu jaksa penuntut umum tidak bisa diterapkan.

Untuk diketahui, gelar sidang perkara pidana di Pengadilan Negeri Jakarta Timur atas terdakwa Pdt Matheus Mangentang dan Ernawaty Simbolon diagendakan masih terus berlanjut dengan tanggapan dari pihak JPU.

Saat persidangan awal pekan ini, kedua terdakwa menjelaskan sikap pembelaan mereka seputar program pendidikan yang diselenggarakan oleh STT Setia dan status ijazah yang diberikan. Juga seputar program Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang menjadi permasalahan dan disebutkan sebagai program pelengkap belaka.

Matheus Mangentang menyatakan, STT Setia bersama sekolah-sekolah teologi yang lainnya sudah melahirkan 12 ribu alumni yang tersebar di seluruh Indonesia, dan banyak yang menjadi pimpinan dan pejabat pendidikan, guru pengajar, PNS dan TNI. “Sangat ironis, upaya mencerdaskan bangsa justru dituduh melakukan perbuatan kriminal dengan tuntutan 9 tahun penjara dan denda satu miliar rupiah,“ keluhnya.

Dalam perjalanan 30 tahun di dunia pendidikan, Matheus Mangentang menyataan bahwa dia hanya berpikir untuk bisa mengangkat harkat dan martabat masyarakat melalui jalur pendidikan. “Mengapa saya malah justru dikenai tuntutan yang melebihi para koruptor dan bandar narkoba?!” protesnya.

Ernawaty Simbolon mengemukakan di persidangan, tentang saksi-saksi yang memberikan keterangan palsu, memberatkan tuduhan kepadanya dengan memberikan informasi-informasi bertolak belakang dari kenyataan yang ada. Bahkan ada penyalahgunaan surat kuasa oleh si pelapor

Ernawaty yang juga alumni STT Setia lulusan 1995 dan memperoleh ijazahnya pada tahun 2000 menegaskan, darinya tidak pernah ada janji apapun untuk melakukan penggunaan ijazah STT Setia bagi keperluan diluar kepentingan edukasi internal di lingkungan kerja STT Setia. (joj/jos)

LEAVE A REPLY