BERBAGI
Adisurya Abdy

Fokuskini – Stadhuis Schandaal, film layar lebar terbaru arahan sutradara Adisurya Abdy dijadwalkan penayangannya hanya di bioskop mulai 26 Juli mendatang, Silakan tunggu saat kembalinya sineas spesialisasi genre drama ini setelah dirinya bangun dari istirahat panjangnya selama sekira 14 tahun.

Adisurya Abdy menyebut dibalik harapan manisnya kembali ke jagat sineas yang sempat ditinggalkan, adalah dirinya berharap bisa ikut meramaikan meriahnya industri perfilman Indonesia dengan menawarkan hal-hal baru yang mungkin bisa disukai oleh masyarakat penonton sebanyak-banyaknya.

“Sehingga mereka (para penonton) punya pilihan karena berbagai ragam genre kan itu perlu. Sekarang ini 70 persen genre film horor semua, dan ini bentuk keberanian yang meski berhadapan dengan kemungkinan rugi, kan ini menawarkan sebuah cerita berbeda yang perlu kita galakkan,” seperti ditegaskannya beberapa waktu lalu.

Selain itu ketika mendiskusikan Stadhuis Schaandal dibantu budayawan Remy Sylado dan pengamat sosial Maman Suherman di Gedung Pusat Perfilman PPHUI baru-baru ini, Adisurya Abdy yang juga Kepala Sinematek Indonesia mengaku nekat lagipula diyakininya profesi sutradara selaku pencipta karya film tidak boleh sampai pensiun, dan jika dirinya sempat terbilang menghilang anggap saja cuma sekadar berliburan panjang.

Kenapa kini bikin karya film dan mengemas naskah berlatar belakang sejarah dari masa kolonialisme, Adisurya Abdy menjelaskan pula karena dia sekaligus berkeinginan belajar melewati masa lalunya ketika masih berproduksi di era seluloid ke periode kekinian yang telah serbadigital.

“Ternyata ya susah-susah gampang seperti juga persoalan bagaimana harus memahami selera generasi milenial antara usia 19-27 tahun. Stadhuis Schaandal pastinya harus mewakili selera kekinian dengan cara beda yang kiranya jangan cari kemudahan mengikuti ramainya tren laris,” ungkap sineas kelahiran Medan, Sumatera Utara pada 62 tahun lalu ini.

Dia pun sekarang menggarisbawahi kekuatan muatan drama bagaimana yang dipilihnya untuk menghibur mayoritas kaum muda milenial. Pastinya, seni hiburan yang positif dan bertanggung jawab, mengisahkan bahwa di Abad 17 atau empat abad yang lalu kasus perselingkuhan itu vonisnya adalah hukuman mati.

“Kejadian (serupa) itu ada, dan menghasilkan istilah hidung belang,” diingatkan Remy Sylado.

Stadhuis Schaandal adalah garapan karya film layar lebar bergenre drama pop berspirit selera kekinian didukung kerja keras rumah produksi Xela Pictures dan telah menyelesaikan tahapan syutingnya di wilayah Kota Tua, seputaran Museum Fatahillah, Jakarta Barat selain juga melakukan pengambilan adegan dan gambar di kota Shanghai dan kota Ningbo, Tiongkok serta Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Pangkal cerita yang ditulis sendiri oleh Adisurya Abdy tersebut mengisahkan Fei, mahasiswi Ilmu Budaya Universitas Indonesia sedang mengerjakan tugas kampus mengenai The Old Batavia. Saat dia mencari bahan dan riset tentang itu di Kota Tua, dirinya yakin telah dibayang-bayangi oleh gadis cantik keturunan Belanda-Jepang yang kemudian kita kenal dengan nama Saartje Specx, dipanggil Sarah.

Misteri pertemuan antara Fei dan Sarah, selanjutnya membuat Fei tidak dapat menghilangkan pertanyaan dalam pikirannya akan apa dan siapa sosok perempuan muda cantik yang mengamatinya di Museum Fatahillah yang dahulunya bernama Stadhuis itu.

Disamping itu Fei memiliki kekasih bernama Chiko yang posesif. Hubungan Fei dan Chiko tengah berada pada titik terendah, karena Chiko ingin seutuhnya menguasai serta mengatur kehidupan pribadi Fei.

Hal itu membuat Fei menjadi terganggu, dan terbebani serta perlahan tapi pasti rasa cinta dan sayangnya terhadap Chiko mulai memudar. Namun sebaliknya Chiko tidak ingin kehilangan Fei.

Fei yang masih harus menyelesaikan tugas kampusnya, kembali bersama beberapa temannya mengunjungi Kota Tua sebagai pusat kajian mereka. Disana Sarah kembali muncul memandang Fei dengan senyum memikat.

Fei merasa bahwa ada satu kekuatan, dan sepertinya Sarah memintanya untuk mendekat. Fei dengan tanpa sadar kakinya melangkah mendekati Sarah. Dengan senyum yang lembut tulus memikat, Sarah spontan menyentuh bagian dada Fei, dan seketika situasi masa kini beralih ke masa lalu, persisnya Fei dibawa oleh Sarah menembus lorong waktu menuju kota Batavia pada tahun 1628.

Sarah adalah putri hasil hubungan gelap dari seorang Perwira Tinggi VOC bersama wanita Jepang. Sarah kemudian dibawa oleh ayahnya ke Batavia dan menetap di rumah kediaman Jan Pieterzoon Coen, sang Gubernur Jenderal.

Di Batavia. Sarah yang tumbuh menjadi remaja cantik membuat beberapa perwira VOC baik muda maupun tua tergila-gila. Namun dalam perjalanannya, hati Sarah hanya tertambat kepada seorang perwira muda VOC, salah seorang pengawal JP Coen bernama Pieter.

Pada masa-masa itu, hubungan beda ras dan beda strata tanpa ikatan perkawinan adalah sesuatu yang tabu, dan jika ketahuan maka dianggap sebagai hubungan terlarang sebagaimana perselingkuhan, dan hukumannya adalah mati.

Dalam pada itu Chiko yang makin merasa bahwa Fei berupaya menjauh dan menghindar darinya, tidak mau menerima. Terlebih-lebih manakala Fei mengatakan bahwa hubungan mereka sebaiknya disudahi dan putus.

Chiko mulai kelihatan perangai aslinya yang jahat, dan memang sesungguhnya selain childish, Chiko tanpa diketahui oleh teman-teman kampusnya adalah bagian dari sindikat yang seringkali memeras banyak perusahaan. Dengan kata lain, Chiko adalah anggota dari sindikat Cyber Crime.

LEAVE A REPLY