Beranda RAGAM Peristiwa Bencana Alam Besar di Kesusastraan Indonesia

Peristiwa Bencana Alam Besar di Kesusastraan Indonesia

96
0
BERBAGI

Fokuskini – Nusantara kita telah menghadapi berbagai bencana alam besar termasuk meletusnya Gunung Krakatau pada 1883, dan gelombang badai tsunami di Aceh pada 2004.

Bagaimanakah peristiwa-peristiwa alam tersebut dicitrakan dalam kesusastraan Indonesia dan informasi apa yang bisa kita dapatkan dari tulisan-tulisan tersebut mengenai masyarakat Nusantara?

Dr Etienne Naveau, guru besar bahasa dan sastra Indonesia di INALCO (Institut Nasional Bahasa-bahasa dan Peradaban Oriental) ini mencoba memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui analisis beberapa novel karya dua penulis produktif yaitu Kwee Tek Hoay dan Taufiq Ismail.

Kwee Tek Hoay, tertarik pada teosofi. Dia menulis drama dari Krakatau pada 1929. Novel ini terinspirasi dari novel The Last Day of Pompeii karya Edward Bulwer-Lytton dan mengandung banyak dokumentasi ilmiah mengenai peristiwa alam tersebut.

Drama sentimental yang bertokohkan seorang dukun Baduy keturunan Raja Padjajaran, yang mengagungkan dewa pelindung Wisnu ini dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana mutasi budaya dan agama, terlebih peristiwa-peristiwa alam menggoreskan trauma pada penduduk Nusantara.

Sementara itu, penulis kedua menggunakan pendekatan yang sama sekali berbeda. Taufiq Ismail yang menganut teodisi Islam menggunakan peristiwa-peristiwa alam dalam novel-novelnya untuk merenungkan makna penderitaan manusia.

Seminar ini diagendakan berlangsung di Institut Kebudayaan Perancis (IFI Thamrin), Jakarta Pusat pada 29 Agustus mendatang mulai jam 17.30 WIB.

LEAVE A REPLY